Jumat, 27/05/2022 | 00:46 WIB
Gresik Satu

Senja Jingga Cafe, Oase Kesenian di Gresik

Di pelbagai sudut Gresik, kita sering menemukan warung, kafe, atau pujasera. Tempat-tempat itu sering kita kunjungi untuk nongkrong. Kebanyakan pengelola tempat-tempat itu memberikan fasilitas jaringan nirkabel sehingga kita semakin betah. Pengelola tempat-tempat itu juga menghubungkan ke aplikasi layanan antar makanan atau minuman agar kita lebih praktis memesannya dari rumah.

Untuk kafe atau pujasera yang memiliki lahan luas, pengelola tempat-tempat itu bisa memberikan fasilitas panggung dan alat musik kepada musisi. Kita dapat nongkrong dengan santai sambil mendengarkan musik. Tapi ada juga kafe yang memberikan fasilitas khusus demi penciptaan ruang kreatif. Kita mengapresiasi fasilitas khusus ini karena mampu mendekatkan seniman dan karya seninya kepada masyarakat.

Fasilitas khusus ini diberikan Senja Jingga Cafe bagi seniman dari Gresik atau daerah sekitar. Seniman tak perlu membayar kecuali membagikan ilmu seninya lewat kegiatan workshop. Sebuah niat yang tulus dalam kerja kebudayaan sehingga kafe bukan lagi soal nongkrong, melainkan ruang ekspresi dan laboratorium seni. Senja Jingga Cafe seolah salah satu oase di tengah sedikitnya tempat kesenian di Gresik.

Beberapa kegiatan kesenian di Senja Jingga Cafe
Foto: Joko Iwan (2021)

Art Space

Senja Jingga Cafe berada di Jalan Awikoen Tirta, Kebomas, Gresik. Tempatnya berada di dalam kawasan Wisata Putri Cempo Giri. Bangunan Senja Jingga Cafe memiliki dua lantai yang begitu fleksibel sebagai “art space”, misal seniman ingin berpameran seni rupa dapat menggunakan lantai satu; dan seniman ingin menggelar pertunjukan tari dapat menggunakan lantai dua.

Di lantai satu, kita memandang ruangan tertutup minim perabot. Dinding ruangan sengaja lebih banyak dicat warna putih. Meski begitu, ada dinding ruangan dicat warna hitam atau ditempeli papan kayu. Tidak ada aksesoris dinding. Barangkali memudahkan seniman (yang akan berpameran) untuk bebas merancang dan men-“display” karya rupanya.

Di lantai dua, kita memandang “rooftop” dengan aneka perabot yang tertata rapi demi kenyamanan pengunjung. Selain aneka perabot, ada lantai terbuka yang bisa kita naiki lewat tangga. Kita pun dapat menikmati beberapa sudut pandang wilayah Gresik dalam ketinggian di Senja Jingga Cafe lantai dua. Salah satu sudut “rooftop” ada kolam kira-kira berukuran 2 x 3 meter dengan pancuran air dari mulut patung Naga Giri.

Suasana Senja Jingga Cafe
Foto: Aji (2022)

Jika kita amati, desain Senja Jingga Cafe menggunakan gaya industrial. Kita bisa tahu pada penggunaan perabot dari bahan daur ulang yang di-“finishing” apa adanya, pemakaian warna netral, hingga penempatan ruang yang fungsional. Gaya industrial pada Senja Jingga Cafe begitu kental budayanya ketika mengetahui penggunaan damar kurung di “rooftop”, bentuk wayang gunungan untuk aksesoris pagar “rooftop”, hingga patung Naga Giri.

“Art space” yang diterapkan Senja Jingga Cafe terasa unik karena pengunjung yang berniat datang untuk nongkrong (mau tidak mau) akan langsung menikmati pameran atau pertunjukan. Hal ini dikarenakan Senja Jingga Cafe tidak membagi ruangan secara terpisah antara pengunjung kafe dan “art space”.

Pameran “E-Soon (Gresart 0.6 pada 15-31 Oktober 2021
Foto: Joko Iwan (2021)

Joko Iwan selaku pengelola menerangkan Senja Jingga Cafe sebagai “art space” dapat menjadi tempat bagi pelbagai bidang seni selain seni rupa. Dirinya ingin ada dua kali kegiatan seni dalam satu bulan. Selain pameran dan pertunjukan, seniman harus membagi ilmunya melalui diskusi dan workshop agar peserta dan pengunjung teredukasi mengenai dunia seni.

Senja Jingga Cafe yang sejak pertama kali membuka “art space” pada tahun 2021 telah menerima pameran seni rupa, sebut saja “E-Soon” (Gresart 0.6 pada 15-31 Oktober 2021); “Connection!!” (program bagian Biennale Jatim IX pada 6-8 Desember 2021); “Angkat, Goreng, Pamerkan” (Power Art pada 10-25 Desember 2021); dan “Surat Cinta untuk Semesta” (Dkviserion pada 15-21 Januari 2022).

Dari waktu ke waktu, pameran dan pertunjukan akan semakin bertambah. Diskusi dan workshop akan semakin digelar oleh para seniman. Ruang ekspresi dan laboratorium seni yang dihadirkan “art space” di Senja Jingga Cafe dapat selalu memekarkan aneka bunga kreativitas.**

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.