Senin, 03/10/2022 | 18:11 WIB
Gresik Satu
Sastra

Sholihul Huda yang Datang dan Berproses di Gresik

Kali ini, saya membahas puisi Sholihul Huda, penyair kelahiran Blora tahun 1981. Jika menelisik sekilas biodatanya, kita mengetahui perjalanan Sholihul Huda: bertumbuh di Blora; berproses di Yogyakarta; dan berkeluarga di Gresik. Saya kira, tiga kota tersebut (Blora, Yogyakarta, dan Gresik) membentuknya sebagai penyair.

Kita jadi tahu, penyair (seniman) Gresik bukan hanya seorang kelahiran Gresik. Orang yang lahir di luar Gresik pun bisa kita anggap penyair Gresik. Kita bisa menganggap begitu karenaSholihul Huda bersama istri dan anak memilih tinggal di Gresik.Selama tinggal di Gresik, Sholihul Huda tetap berproses, seperti terlibat dalam kepengurusan Lesbumi Gresik (2022-2027).

Sholihul Huda bersama keluarga
Sumber: https://www.facebook.com/sholihul.huda.142

Kehadiran Sholihul Huda memberi warna pada dunia kesenian Gresik, di mana prosesnya dari Yogyakarta dapat ditularkan ke para penyair (seniman) Gresik yang lain. Penularan jadi pentingdemi kedinamisan perkembangan seni di Gresik. Salah satu penularan yang dilakukan Sholihul Huda adalah penulisanwacana kesenian.

Kita menengok penulisan wacana kesenian dari Sholihul Hudayang dimuat di portal sastra-indonesia.com, yaitu:Menuju Bedah Buku M. Muhibbuddin Mengenai W.S. Rendra(2019) dan “Posisi Subyek dan Lirik dalam Puisi (2020). Penulisan wacana kesenian tersebut begitu berharga karena memupukpergesekan ide di Gresik.

Sholihul Huda membaca puisi
Sumber: https://www.facebook.com/sholihul.huda.142

Jejak Sholihul Huda

Sholihul Huda merupakan lulusan Jurusan Teologi dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selama di Yogyakarta,Sholihul Huda pernah aktif di pelbagai komunitas, yaitu:Komunitas Studi Sastra Sendiri (K3S), Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY), Sanggar Nuun, Komunitas Roemah Poetika Yogyakarta, dan Teater Mahagenta Khatulistiwa Yogyakarta.

Pada tulisan “Menuju Bedah Buku M. Muhibbuddin Mengenai W.S. Rendra”, Sholihul Huda bercerita bagaimana proses di LKKY: “…Sistem yang dibangun di Sanggar ini (LKKY)kemandirian, atau ketaktergantungan kecuali kepada Tuhan. Bagi mereka yang masuk tidak diperbolehkan mendapat kiriman dari orang tua. Santri harus berusaha sendiri untuk pemenuhan kebutuhan hidup pribadi dan komunal….”

Aktivitas kesenian Sholihul Huda
Sumber: Sholihul Huda

Pemenuhan hidup yang dilakukan Sholihul Huda bersama teman-teman LKKY adalah berjualan roti, kacang, hingga loper koran. Selain itu, di luar aktivitas pemenuhan hidup, mereka harus menulis dan membaca. Tentu ada yang melakukan aktivitas kegiatan diskusi demi pergesekan ide. Bidang seni yang mereka bahas, antara lain: teater, musik, dan sastra.

Barangkali apa yang terjadi di LKKY dapat mengasah kepekaan seseorang. Karena itu, puisi-puisi Sholihul Huda lebih terasa hubungan diri dengan realita. Sebagai penyair Gresik, saya mencatat, puisi-puisi Sholihul Huda dapat kita tengok di buku puisi antologi bersama, yaitu: “Burung Gagak dan Kupu-kupu” (2012). Pada puisi-puisi Sholihul Huda di buku puisi antologi bersama “Burung Gagak dan Kupu-kupu” masih terlihat jejak Yogyakarta (sebagai kota penciptaan puisi) dan bertarikh 2012.

Poster kegiatan Sholihul Huda
Sumber: Sholihul Huda

Episode Teater Hutan

Satu puisi Sholihul Huda yang menarik hati saya di buku puisi antologi bersama “Burung Gagak dan Kupu-kupu” adalah “Episode Teater Hutan”. Saya menangkap kisah aku-lirik dalam puisi “Episode Teater Hutan” yang berhasil menyelesaikan tujuh puisi dalam satu malam. Sebenarnya, bagi saya, tujuh puisi dalam satu malam termasuk produktif. Tapi aku-lirik ingin lebih sehingga dia memaksakan diri untuk menulis puisi kedelapan. Ternyata, aku-lirik (dalam menulis puisi kedelapan) tiba-tibaberada di tengah hutan.

Ketika tersesat di tengah hutan, keadaan aku-lirik telah bermata buta dan berkaki lumpuh. Aku-lirik tidak mau menyerah. Lalu aku-lirik membongkar kepalanya sendiri. Sholihul Huda menulis apa yang ditemukan aku-lirik dalam isi kepalanya sendiri di bait puisi “Episode Teater Hutan”: “//aku hanya bisa diam/ membongkar isi kepala berukuran/ dua puluh tujuh hektar/ ada banyak buah yang belum siap dipetik di sana/ karena belum matang/ tidak boleh kumakan//”.

Hal menarik justru aku-lirik enggan memetiknya karena buah itu belum matang. Artinya, Sholihul Huda tidak ingin memaksa sesuatu yang belum waktunya, meski aku-lirik berujung “…diam/ di bawah guyuran hujan kata/… Dan kita menafsir buah itu adalah “buah pikir” yang bermakna pendapat.

Puisi “Episode Teater Hutan” memberi kita pencerahan betapa seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu yang lebih pada akhirnya kuldesak (jalan tertutup). Kuldesak bukan berarti diam saja, melainkan berpikir secara matang agar dapat melangkah kembali, misal: mundur ke asal atau berputar ke tujuan.

Sholihul Huda bersama teman-teman
Sumber: https://www.facebook.com/sholihul.huda.142

Kipas Angin

Lain itu, kita juga dapat menengok puisi-puisi Sholihul Huda yang dimuat di portal sastra-indonesia.com pada tahun 2019.Satu puisi Sholihul Huda berikutnya yang menarik hati saya, yaitu: puisi “Kipas Angin”. Saya tulis utuh puisi “Kipas angin”: //Kau sudah tak sabar berputar/ Mencipta angin/ dan lautan kenang – persetubuhan guling dan bantal dalam kamar// Si Listrik sedang digilir di kamar sebelah/ Yang sabar ya kipas angin sebentar lagi tuanmu gerah dan marah.//

Puisi “Kipas Angin” tidak bertarikh dan tanpa tempat penciptaan. Jika kita membaca suasana puisi “Kipas Angin”, barangkali Sholihul Huda menulisnya ketika bersama keluarga. Kita menafsir puisi “Kipas Angin” ditulis oleh Sholihul Hudasetelah peristiwa listrik padam karena rumahnya kehabisan pulsa listrik. Sedangkan, listrik rumah tetangga dilihat oleh Sholihul Huda masih menyalakan lampu.

Puisi “Kipas Angin” memberi kita refleksi bagaimana kenikmatan hidup begitu sederhana, seperti “…/ Mencipta angin/ dan lautan kenang – persetubuhan guling dan bantal dalam kamar//” Kipas angin serupa oase bagi tuannya. Dan kipas angin seolah hidup yang memikirkan kondisi tuannya yang akan gerah dan marah.

Dua puisi di atas hanyalah pembacaan saya bagaimana Sholihul Huda menulis puisi dengan hubungan realita. Saya kira itulah suara lain untuk warna seni (puisi) di Gresik. Yang ditulis oleh penyair dari lain kota dan tinggal di Gresik. Pengalamannya dari lain kota itu menjadi humus yang menggairahkan kepenulisan puisinya.**


Catatan:
Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.

Daftar Bacaan

Didik Hendri YN Dkk (2012), Burung Gagak dan Kupu-kupu, Gresik: Kosakata-G

http://sastra-indonesia.com/2019/12/menuju-bedah-buku-m-muhibbuddin-mengenai-w-s-rendra/ (diakses pada 13 April 2022)

http://sastra-indonesia.com/2019/08/puisi-puisi-sholihul-huda/(diakses pada 13 April 2022)