Jumat, 27/05/2022 | 22:19 WIB
Gresik Satu

Surat Cinta dari Dkviserion

Suasana ruang pameran “Surat Cinta untuk Semesta” di Jingga Art Space (Gresik), 15 s.d. 21 Januari 2022.

Tahun 2021 telah berganti tahun 2022. Meski begitu, beberapa peristiwa masih membekas dalam ingatan, misal banjir, covid-19, PPKM, kasus pelecehan seksual, korupsi, dan lain-lain. Barangkali beberapa peristiwa akan selalu terkenang karena berdampak langsung kepada kita. Atau beberapa peristiwa justru tak terkenang karena kemunculan peristiwa baru dalam setiap waktu.

Bagi seorang seniman, beberapa peristiwa menjadi bahan kreativitas untuk berkarya. Transformasi dari beberapa peristiwa ke dalam karya seni bisa memunculkan pemaknaan baru. Perihal ini tersaji pada karya-karya Dkviserion (mahasiswa DKV UISI) lewat pameran bertajuk “Surat Cinta untuk Semesta” di Jingga Art Space (Gresik), 15 s.d. 21 Januari 2022.

Suasana ruang pameran “Surat Cinta untuk Semesta” di Jingga Art Space (Gresik), 15 s.d. 21 Januari 2022.

Ada sekitar 20 karya yang dipamerkan, yaitu 14 karya tunggal dan 6 karya kolaborasi. Karya-karya tersebut banyak menampilkan desain grafis tentang ragam fenomena yang terjadi di seluruh dunia selama tahun 2021. Sesuai tertera dalam bingkai kuratorialnya: “… “Surat Cinta untuk Semesta” mencoba untuk merespon berbagai macam fenomena yang telah terjadi dalam semesta manusia…”

Sisyphus

Beberapa fenomena yang mengelus dada dan bikin hati miris terespon dalam setiap karya di pameran “Surat Cinta untuk Semesta”. Meski begitu, ada satu desain grafis yang menarik, yaitu “Sisyphus 2020s” karya Ridho. Kita tahu, Sisyphus adalah tokoh dalam mitologi Yunani yang dihukum untuk mengangkat batu besar ke atas bukit. Setelah sampai di atas bukit, batu tersebut menggelinding kembali ke bawah. Lalu Sisyphus harus mengangkatnya ulang.

Ridho mengaku ide “Sisyphus 2020s” diadopsi dari buku “The Myth of Sisyphus” karya Albert Camus. Dalam deskripsi “Sisyphus 2020s”, Ridho menerangkan: “Tokoh Sisyphus adalah representasi manusia dengan kehidupan yang absurd karena siklus kehidupan yang berulang. Sedangkan batu adalah representasi dari permasalahan yang dibawa…”

Judul: Sisyphus 2020s
Karya: Ridho
Ukuran: A2
Media: Print Artpaper
Tahun: 2022

Dalam rupa “Sisyphus 2020s”, Ridho mengganti bentuk batu dengan covid-19. Lalu kita diperlihatkan 12 adegan bagaimana Sisyphus berulang kali menggelindingkan covid-19 ke atas bukit. Serta bagaimana covid-19 berulang kali terjun ke bawah bukit. Dua belas adegan ini menandai betapa permasalahan covid-19 masih belum berakhir sejak tahun 2019.

“Sisyphus 2020s” boleh jadi cerminan bagaimana pandemi covid-19 mengubah manusia dengan gaya hidup baru: penggunaan masker, berjarak, WFH, vaksin, hingga cuci tangan. Hal positif yang bisa kita terima adalah manusia tetap memiliki daya hidup meski tetap selalu terhantui oleh kematiannya. Ya, siklus kehidupan harus tetap berjalan.

Resolusi

Kita kadang membuat resolusi ketika tahun akan berakhir. Resolusi menjadi semacam perencanaan agenda demi masa depan yang lebih baik. “Ineffable” karya Aslikhatul Millah dan Sinisa Nova Qillani serta “Unity in Divertsity” karya Rolando Gallant Widyasena seolah mengandung resolusi untuk melepas tahun 2021.

Judul: Ineffable
Karya: Aslikhatul Millah dan Sinisa Nova Qillani
Ukuran: 59 x 59 cm
Media: Mix Media Tahun: 2022

“Ineffable” menggambarkan tangan kanan memegang satu tangkai bunga di atas bumi. Kelopak bunga itu memiliki bentuk seperti matahari. Latar gambar serupa langit berwana sedikit biru dengan dominasi abu-abu. Di bawah tangan, sepasang daun seolah layu karena akarnya tidak menancap di tanah.

Kita membayangkan bunga itu adalah bagian semesta. Tangan kanan sebenarnya tak mencabut bunga itu karena akarnya masih serabut. Barangkali tangan kanan ingin memindahkan bunga itu ke tempat lain. Atau tangan kanan ingin menikmati bunga itu. Dan bumi masih tetap hijau penuh kesuburan. Yang jelas, Aslikhatul Millah dan Sinisa Nova Qillani menerangkan pada deskripsi “Ineffable”:

“Tentang bagaimana semesta yang terus memberi, menuntun setiap insan yang membutuhkan dan membawa percik bahagia…”

Judul: Unity in Divertsity
Karya: Rolando Gallant Widyasena
Ukuran: 60 x 60 cm
Media: Print Artpaper
Tahun: 2022

Sedangkan “Unity in Divertsity” menggambarkan 5 tangan dengan warna kulit berbeda sedang saling menggenggam pergelangan tangan. Di lengan bajunya ada simbol-simbol. Di tengah genggaman yang membentuk segilima ada bendera Indonesia.

“Unity in Divertsity” memiliki makna ideal bagi kehidupan manusia yang harus saling mengasihi antar sesama. Sebuah harapan yang baik bagi keberagaman manusia, seperti diterangkan Rolando Gallant Widyasena dalam deskripsi:

“Kita harus saling membantu dan merangkul orang lain tanpa memandang suku, antar golongan, ras, dan agama. Apalagi saat ini terjadi pandemi covid-19. Dan seharusnya kita bisa dengan mudah melewatinya jika menolong sesama manusia. Indonesia akan lebih indah dan tenteram jika kita bisa menghargai.”

Kita hubungkan kedua karya tersebut. Betapa hal negatif pada tahun 2021 hanyalah memori yang perlu didamaikan. Lalu kedua karya tersebut seolah mengatakan kepada kita, “jika kau mencintai semesta secara tulus, semesta juga membalas cintamu secara tulus pula.” Semoga surat cinta dari Dkviserion dibalas oleh semesta. **

Catatan : Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh sastrawan muda asal Kota Pudak Aji Saiful Ramadhan

Tinggalkan Komentar