Selasa, 09/08/2022 | 21:26 WIB
Gresik Satu
Opini

Tidak Harus Menjadi Mata Pelajaran yang Berdiri Sendiri

gresiksatu.com

Oleh: PRIYANDONO **

Rencana Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik memasukkan sejarah lokal ke dalam kurikulum muatan lokal (mulok) patut diapresiasi positif. Memang sudah sepatutnya peserta didik memahami benar sejarah dan budayanya. Ini penting tersebab akan menumbuhkan kesadaran sejarah yang dapat menjadi modal, sehingga mereka dapat hidup di tengah dunia global tanpa tercerabut dari akar sejarah dan budayanya.

Pembelajaran sejarah lokal Gresik diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa masyarakat Gresik memiliki andil besar dalam pembentukan suatu bangsa, yaitu Indonesia. Melalui sejarah lokal Gresik, kita diharapkan juga dapat mengetahui perbandingan perkembangan masyarakat Gresik dengan wilayah lainnya sehingga lahir semangat untuk mensejajarkan diri dengan wilayah lain atau bahkan menjadi pelopor kemajuan dan integrasi bangsa.

Sebagaimana dikutip GresikSatu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik S. Hariyanto mengatakan, selama ini sejarah lokal diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Namun, untuk spesifiknya nanti kita siapkan Peraturan Bupati (Perbup). Dalam Perbup itu ada silabus mulok sejarah lokal yang diajarkan kepada peserta didik di Kabupaten Gresik,” ucapnya, Rabu (27/7/2022).

Ada hal yang menurut saya perlu diperhatikan sebelum Perbub tentang mulok sejarah lokal ini diterbitkan. Dalam Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi nomor 262 tahun 2022, alokasi waktu untuk mulok adalah 2 jam pelajaran atau 72 JP setahun (asumsi 36 minggu setahun dan 1 JP 40 menit). Sependek yang saya tahu, saat ini sudah ada 2 mulok yakni Bahasa Jawa dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Kalau sejarah lokal dijadikan mulok, konsekuensinya salah satu dari dua mapel itu harus di takedown. Kalau untuk Bahasa Jawa agak susah tersebab sudah ada Pergub-nya.

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah pengalaman sejarah. Pada tahun 2005, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gresik pernah menerbitkan buku Mengenal Sejarah dan Budaya Masyarakat Gresik. Buku tersebut ditulis guru sejarah sekaligus sejarawan jebolan Universitas Gajah Mada, Mustakim. Akan tetapi, kala itu guru mengalami kesulitan mengimplementasikan. Mengapa? Materi pelajaran saat itu sudah sangat padat dan alokasi jam pelajaran per minggu juga sudah sesak. Hal ini diperburuk dengan guru pengajar tidak berlatarbelakang sejarah. Akibatnya, pembelajarannya kurang maksimal, sehingga lebih banyak sebagai buku pendamping dan pengayaan.

Saya khawatir, buku dan silabus yang akan disiapkan S.Hariyanto nantinya akan mengalami nasib yang sama seperti pendahulunya. Pak Har, begitu saya biasa menyapa, yang juga mantan guru sejarah, saya yakin akan membuka kembali catatannya pada tahun 2005. Kalau, dinilai berhasil tentunya akan berlanjut hingga sekarang. Tapi?

Sejarah lokal dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran seperti yang telah berjalan seperti saat ini. Tidak harus menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri. Hanya saja memang perlu penajaman dan penambahan porsinya. Misalnya begini, ketika guru menyampaikan lingkup materi tentang perkembangan agama dan kebudayaan Islam di Indonesia. Maka materi perihal perkembangan agama dan kebudayaan Islam di Gresik porsinya harus lebih banyak.

Pun juga ketika guru menyampaikan materi terkait peristiwa sekitar Proklamasi. Maka guru harus lebih banyak membahas tentang aktivitas masyarakat Gresik menyambut Proklamasi, perlawanan masyarakat Gresik kepada Jepang, dan seterusnya.

Kecuali lewat pembelajaran intrakurikuler, sejarah lokal juga dapat di-inshert-kan ke dalam pembelajaran Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) seperti: kearifan lokal, bangunlah jiwa raganya, bhinneka tunggal ika, berekayasa dan berteknologi untuk NKRI suara demokrasi, gaya hidup berkelanjutan, dan kewirausahaan. P5 memang tidak ada sangkutpautnya dengan mata pelajaran. Tetapi sekolah dapat memilih tema P5, lalu dikorelasikan dengan sejarah dan budaya lokal.

Misalnya, sekolah dapat mengambil tema kearifan lokal dengan melakukan pembelajaran proyek dengan judul Nenek Moyangku Seorang Pelaut, Damar Kurung sebagai Local Genius dan sebagainya.

Pun juga dengan tema kewirausahaan. Sekolah bisa mengangkat badogan Gresik dengan melaksanakan pembelajaran proyek bertajuk: Badogan Gresik dalam Kepungan kuliner modern, misalnya.

Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada guru untuk memilih materi essensial. Mereka tidak lagi dibebani konten sehingga ungkapan guru mengejar materi tidak akan terdengar lagi di telinga kita. Artinya, indikator-indikator akademik perlahan-lahan mulai digeser ke arah indikator karakter. Kalau sekarang pembelajaran proyek P5 alokasinya 20-30 persen dari keseluruhan JP selama setahun, bisa jadi ke depan bisa bertambah.

Oleh sebab itu, fokus menguatkan sekolah penggerak, menajamkan pembelajaran P5, serta melahirkan guru penggerak, kelihatannya lebih efektif daripada mengulang sejarah 2005. Maafkan saya. Tabik.

** Penulis adalah Mantan Guru Sejarah di SMPN 2 Balongpanggang, Gresik