Minggu, 25/09/2022 | 18:18 WIB
Gresik Satu
Sang Desa

Tumpeng Raksasa dan Hanoman, Meriahkan Gelaran Sedekah Bumi di Desa Pandanan Gresik

Gresiksatu.com
Tiga Hanoman mengawal iringan tumpeng raksasa dk Desa Pandanan. (Foto : Aam Alamsyah/ Gresiksatu.com)

GresikSatu | Dua tumpeng raksasa memeriahkan tradisi sedekah bumi di Desa Pandanan, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik, Jum’at (9/9/2022) kemarin. Menariknya, tumpeng raksasa setinggi 3 meter itu dijaga ketat oleh Hanoman. Tokoh pewayangan dalam tradisi jawa kuno.

Pantauan di lapangan, empat orang yang berkostum Hanoman terlihat menjaga tumpeng yang terdiri dari ikan-ikanan hasil panen tambak. Tumpeng itu kemudian dikawinkan dengan tumpeng yang terbuat dari hasil bumi. Seperti, tomat, kangkung, gubus, hingga singkong.

Dua tumpeng raksasa namun berbeda isinya itu, kemudian diarak bersama-sama oleh warga. Sesampai di depan desa, arakan tumpeng raksasa itu lalu direbutkan oleh ratusan orang. Ada yang sukses mendapatkan sayuran maupun ikan-ikanan untuk dibawa pulang. Namun tak sedikit juga yang tak mendapatkan apa-apa.

Kepala Desa Pandanan Suryadi mengatakan, tradisi sedekah bumi ini momen yang sangat langkah. Selain bertepatan dengan hari istimewa, momentum ini juga bertepan dengan ulang tahun pengangkatan dirinya sebagai kepala desa.

“Jadi ini sebuah kebetulan yang berkah. Semoga kedepan warga desa dijauhkan dari semua bahaya dan didekatkan rezekinya,” katanya.

Dijelaskan Suryadi, kehadiran Hanoman dalam sedekah bumi dimaksudkan agar sebagai simbol sosok penolong yang selalu menjujung tinggi gotong royong. Kemudian pakaian hanoman yang banyak warna mengisayaratkan semua golongan harus terayomi dengan baik.

“Kemudian tadi ada sawuran uang atau sebar uang juga sebagai simbol euforia  setelah panan tambak dan hasil bumi,” jelasnya.

Di Desa Pandanan sendiri, masyarakat desa tidak hanya bergantung pada hasil tanam seperti sawah. Namun banyak juga berprofesi sebagai petani tambak. Karena itu, dua tumpeng raksasa dengan banyak isian hasil bumi dan tambak dihadirkan.

“Tadi juga ada tradisi mengkawinkan tumpeng raksasa. Ini juga menujukan jika warga kami memiliki penghasilan bumi dan tambak,” tandasnya. (aam)