Kamis, 30/06/2022 | 02:28 WIB
Gresik Satu
Opini

Urgensi Umpan Balik kepada Sejawat

Oleh: Priyandono

Umpan balik atau yang kerap disebut feedback adalah masukan yang dapat berupa kritik konstruktif dan atau penguatan dari seseorang yang disampaikan kepada orang-orang lain atau kelompok. Umpan balik ini sangat penting tersebab dapat dijadikan bahan renungan atau pijalan untuk tindakan selanjutnya yang lebih baik.

Umpan balik kali pertama tumbuh di dunia kedokteran. Seorang dokter harus dibekali umpan balik positif tersebab mereka berhadapan dengan pasien dengan kondisi pasien yang bermacam macam. Mereka harus diberikan umpan balik positif agar kondisi pasien tidak semakin drop. Melalui umpan balik positif diharapkan kondisi psikologis pasien menjadi stabil sehingga diharapkan berpengaruh positif terhadap penyakit yang dideritanya.

Dalam perkembangannya, umpan balik masuk ke dunia pendidikan. Saya tidak tahun persis penyebabnya. Akan tetapi menurut dugaan saya, diantara sejawat di lingkungan pendidikan yang puas di zona nyaman hingga enggan melakukan perubahan. Umpan balik ini diharapkan mampu memberikan daya ungkit sehingga mereka adaptif terhadap perubahan.

Tapi itu kan baru dugaan. Terlepas dari semua itu, umpan balik menjadi sangat penting tersebab pada setiap diri kita dilingkupi kekuarangan sehingga perlu umpan balik atau masukan.

Kenapa harus umpan balik? Ketika kita memberikan umpan balik, sudah barang tentu kita menjadi terlatih memberikan masukan atau gagasan postif. Kemudian mengonfirmasi sejumlah prasangka yang terjadi. Kecuali itu, umpan balik yang kita berikan akan membantu orang lain (sejawat) tidak melakukan kesalahan yang sama.

Ketika ketika menerima umpan balik, maka umpan balik itu dapat kita jadikan sarana untuk meningkatkan kapasitas diri. Di samping itu kita juga dapat mencari solusi terbaik atas masukan tadi. Dengan demikian, pikiran kita akan selalu tumbuh dan berkembang (growth mindset)

Dalam memberikan umpan balik sebaiknya merujuk perilaku, bukan sifat atau perilakunya perilakunya serta menjelaskan mengapa peristiwa itu efektif dan atau tidak efektif. Di samping itu, saat memberikan umpan balik sebaiknya juga berimbang (balance). Diawali dengan kalimat positif, kalimat penguatan atau pemberian apresiasi. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan, lalu ditutup dengan kalimat positif.

Kalau memberikan umpan balik seyogyanya tidak perlu ditunda. Beberapa setelah kejadian bisa langsung memberikan umpan balik. Ingat, jangan mengumpulkan daftar kesalahan dan hindari repetisi yang sudah pernah disampaikan.

Sebelum melakukan umpan balik, sebaiknya menata hati dan meluruskan niat terlebih dahulu. Tujuannya agar tetap bisa menjaga harga diri sejawat dan memberikan alternatif solusi yang diperlukan. Niat ini sangat penting, sebab melakukan tindakan tanpa niat sama halnya tidak melakukan apa apa.

Ada beberapa teknik memberikan umpan balik. Diantaranya teknik sandwich, ada teknik ATA (Ask-Tell-Ask), ada juga teknik the bridge, dan ada juga teknik SBI (Situation Behavior Impact).

Dari beberapa teknik di atas yang kerap dilakukan adalah teknik sandwich. Teknik ini terdiri dari 3 lapis. Lapis atas, kalimat positif, penguatan atau pemberian apresiasi. Lapis lapisan tengah berupa masukan/kritik membangun terhadap perilaku yang akan ditingkatkan. Dari lapis atas ke lapis tengah hindari penggunaan kata “tapi”, ” namun”, “meskipun”. Sementara lapis bawah adalah kalimat positif atau penguatan.

Lantas bagaimana kalau kita berada pada posisi penerima umpan balik? Apa yang harus kita perbuat?Jadikan feedback sebagai kesempatan belajar. Selaku penerima umpan balik sebaiknya kita lebih banyak mendengarkan. Tidak perlu menyela atau menginterupsi. Tunggu hingga pemberi umpan balik selesai bicara. Dengarkan dengan penuh perhatian dan fokus pada perilaku. Jangan terlalu reaktif, tapi juga jangan terlalu defensif. Silakan bertanya atau melakukan klarifikasi.

Mengakhiri tulisan ini, saya mengajak diri saya sendiri dan para sejawat untuk membiasakan diri memberika umpan balik. Jadikan umpan balik inie jadi budaya positif di sekolah. Saling mengisi, saling menguatkan dan saling mendoakan.

Catatan : Penulis adalah Fasilitator Guru Penggerak

Full Day School