Rabu, 26/01/2022 | 11:42 WIB
Gresik Satu

Anti Mainstream, SMA Ini Gunakan Layang-layang Sebagai Penilaian Ujian Sekolah

Para siswa SMA Muhammadiyah 1 Gresik menaikan layang-layang. (sah)

GresikSatu | Umumya, ujian sekolah biasanya para murid akan diminta menjawab soal yang disediakan guru, dan menuangkan di atas kertas. Namun berbeda dengan para siswa di SMA Muhmmadiyah 1 Gresik ini.

Para guru tidak lagi menuliskan soal sesuai materi yang ada di buku. Melainkan, mereka diminta untuk membuat layang-layang yang dikombinasikan dengan mata pelajaran yang sudah dipelajari.

Seperti pembuatan layang-layang yang membutuhkan ukuran yang tepat agar bisa terbang. Ukuran dalam pembuatan layangan tentu membutuhkan ilmu matematika yang pasti, begitu juga dengan mata pelajaran lain.

Teknik ujian dengan seperti ini, memang anti mainstream. Tapi para guru yakin, ujian seperti ini siswanya mudah menyerap ilmu yang sudah diterangkan. Dalam artian pembuatan layang-layang sebagai hasil praktik dari ilmu yang sudah dipelajari.

Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 GKB Gresik, Ainul Muttaqin mengatakan, layang-layang dipilih karena mengandung unsur pelajaran. Diantaranya matematika, olahraga dan seni.

Menurutnya, penilaian para siswa dalam membuat produk kolaborasi, banyak mata pelajaran yang bisa diserap.

“Anak-anak diharapkan mampu mengaplikasikan mata pelajaran apa yang ada di kelas, bersama teman-temannya. Harapannya satu memahami materi, kedua pembelajaran yang menyenangkan,” katanya, Rabu (1/12/2021).

Baca Juga : Cerita Anak SD di Gresik, Tetap Sekolah Meski Terendam Banjir

“Harapannya ada nilai pembelajaran olahraga, olah pikir, olah rasa mucul di layang-layang itu,” tambahnya.

Para siswa SMA Muhammadiyah 1 Gresik menaikan layang-layang. (sah)

Sementara itu, pantauan di lapangan setiap siswa terlihat sibuk menaikan layang-layang. Bentuknya beragam. Pembuatan layangan berdasarkan ilmu pelajaran yang mereka terima di sekolah.

Para siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Gresik misalnya, membuat layang-layang dengan berbagai bentuk. Mulai dari layang-layang berbentuk burung hantu, segi enam, berhias damar kurung, pudak dan lain sebagainya.

Layang-layang itu diterbangkan secara bersamaan di halaman sekolah. Salah satu siswa, bernama Kayyis Ramadhani Nakanu (16) mengaku senang ujian penilaian akhir semester dengan membuat project layang-layang.

“Ada hubungan matematika dengan layang-layang. Misal beberapa meter bisa terbang. Pelajaran kimia bahan layang ini agar kita di daur ulang tidak merusak lingkungan. Kami juga menuliskan cita-cita dengan harapan mampu terbang setinggi langit, mau setinggi apapun,” terang Kayyis. (sah)

Tinggalkan Komentar