Selasa, 09/08/2022 | 20:34 WIB
Gresik Satu
Gresik Seru

Ini Sejarah Tiga Nama Desa Unik di Kecamatan Kedamean, dari Desa Matamu hingga Melampah

Ini Sejarah Tiga Nama Desa Unik di Kecamatan Kedamean, dari Desa Matamu hingga Melampah
Desa Tulung, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik / Foto : istimewa

GresikSatu | Nama desa biasanya sangat erat kaitannya dengan sejarah desa tersebut. Masalahnya, tidak banyak anak zaman sekarang yang tahu darimana nama desa mereka berasal. Yang pasti, nama-nama desa ini sudah ada sejak zaman nenek moyang.

Di Kecamatan Kedamean misalnya, ada 3 desa dan dusun yang memiliki nama unik. Seperti, Desa Tulung, Lampah dan Dusun Gorekan, Desa Cermen. Ketiganya memiliki historis yang panjang dari mana asal usul penamaan desa.

Desa Tulung, Kecamatan Kedamean, misalnya. Tidak banyak yang mengetahui jika nama desa ini terdahulunya adalah Desa Matamu. Seiring waktu karena konotasi “matamu” mengandung makna makian maka digantilah dengan nama yang lebih baik. Namun pemberian nama baru, tidak serta merta tidak ada kaitannya dengan nama sebelumnya.

Hal itu seperti disampaikan Mbah Supi warga setempat, yang tertuang dalam buku Sang Gresik Bercerita Lagi, karangan Kris Adji dan kawan-kawan. Disebutkan, dahulu kala ada sepasang pengembara yang sedang berpetualang ke Pulau Jawa. Pengembara tersebut telah sampai di Jawa Timur.

“Pengembara tersebut tersesat di sebuah desa dan dia tidak tahu kemana akan melanjutkan perjalanan. Begitu dia sampai di tepi desa di melihat seorang yang berada di tengah sawah,” tulisnya.

Karena tempatnya yang agak jauh di tengah sawah, pengembara itu berteriak dari pematang sawah “Pak, ini desa mana?” Petani yang ada di sawah itu pun berteriak menjawab “Matamu!”

Pengembara itu pun kaget, karena tidak yakin dengan pendengarannya. Ia lantas bertanya lagi, namun petani itu tetap tegas menjawab bahwa ink Desa Matamu. Anehnya, para pengembara itu malah tersinggung dengan pernyataan petani tersebut.

Baca Juga : Jelang Natal dan Tahun Baru, Cabai di Gresik Tembus Rp 95 Ribu

“Dalam keadaan yang kelelahan dan tersesat seperti itu, ia mendengar umpatan yang membuat emosinya langsung naik. Pengembara langsung marah. Dia langsung lari mendekat kepada petani itu. Petani itu pun mencoba mendekat karena dia menduga sang pengembara tidak mendengar dengan jelas jawabannya,” bebernya.

Tanpa diduga oleh si petani, pengembara itu memukulinya bertubi-tubi. Sambil berlari menyelamatkan diri, petani melewati lurung desa sambil berteriak “Tulung, tulung, tulung!” ke warga desa. Atas kejadian itu, warga Desa Matamu merasa khawatir kalau kejadian itu terulang lagi. Akhirnya dengan pertimbangan sesesepuh desa, nama berubah menjadi Desa Tulung.

Kemudian nama desa unik lain, yakni Desa Lampah, Kecamatan Kedamean. Masih dalam literasi buku tersebut, diceritakan ada sepasang pengembara melakukan perjalanan ke arah utara dengan berjalan kaki. Dalam Bahasa Jawa Kromo, berjalan kaki itu disebut mlampah. Karena berniat hendak menegur, maka seorang warga menegur dengan kalimat “Kok mlampah mawon?” Artinya kok berjalan saja.

“Karena seringnya orang menyapa dengan kata-kata itu maka desa itu disebut dengan Desa Lampah,” tukasnya.

Selanjutnya, nama unik Dusun Gorekan. Perlu diingat, selain karena nama unik, Dusun ini juga kerap viral di media sosial karena peristiwa meyebrangkan jenazah orang meninggal ke bantaran sungai Kali Lamong, menuju pemakaman desa setempat. Namun, dari sepenggal kisah dramatis itu ternyata dusun itu memilki historis penamaan.

Diceritakan, suatu hari seorang warga memandikan kerbau, tiba-tiba muncul dua orang laki-laki dan perempuan dari balik grumbul. Suami istri yang ditegur tiba-tiba, merasa takut dan kaget. Karena takut dan kaget yang sangat, kedua orang itu terkena serangan jantung dan meninggal seketika.

“Kedua pengembara itu merasa sedih karena menyebabkan kematian suami istri itu. Mereka kemudian menguburkan kedua orang disamping lubang penampungan air yang ada,” bebernya.

Desa tempat meninggalnya kedua orang itu kemudian diberi nama Gorekan, yang bermakna ditegur malah gemetaran dan akhirnya meninggal. Wis-wis, onok- onok ae.

Cerita asal-usul kisah ini masih patut kebenaran karena belum ditemukan kevalidan cerita rakyat ini. Tetapi banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dan tularkan pada generasi muda. Bagi sebagian orang, mungkin pemberian nama itu asal-asalan saja. Apalah arti sebuah nama. Tetapi sesungguhnya nama adalah doa. (sah)

Tinggalkan Komentar